Ekonomi Rusia Tergerus Perang Ukraina, Warga Kehilangan Hidup Normal

Ekonomi Rusia Tergerus Perang Ukraina, Warga Kehilangan Hidup Normal

KANALEKONOMI.ID — Sekitar 1.100 tentara Rusia tewas atau terluka setiap hari dalam perang Ukraina yang telah berlangsung empat setengah tahun. Di luar gelembung kota Moskow dan St. Petersburg, kehidupan warga Rusia kian jauh dari kata normal. Ekonomi militer negara itu disebut mendekati ambang kehancuran.

Serangan besar-besaran Rusia ke Ukraina yang dimulai 2022 mengubah wajah kehidupan sehari-hari di Rusia. Sebelum invasi, warga dan elite Rusia menikmati stabilitas ekonomi yang relatif mapan. Kini, empat setengah tahun berselang, perang menggerogoti hampir setiap sendi kehidupan negara itu.

Bagi sebagian besar warga Rusia, kata "normalno" — semacam jawaban "biasa-biasa saja" — selama ini menggambarkan hidup yang tidak istimewa, tapi juga tidak buruk. Kondisi itu kini terancam oleh perang yang menyeret ekonomi dan generasi muda Rusia ke dalam pusaran kekerasan.

Beban Perang yang Tak Lagi Terasa Jauh

Warga Moskow dan St. Petersburg, dua kota yang paling terlindungi dari dampak langsung perang, mulai merasakan sendiri apa yang dulu terasa seperti konflik jauh. Tingkat korban harian yang mencapai sekitar 1.100 tentara tewas atau terluka menempatkan perang ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam sejarah modern Rusia.

Ekonomi yang dimiliterisasi mendorong negara ke ambang kehancuran. Di luar dua kota besar itu, kehidupan warga Rusia jauh dari kondisi normal. Perang tidak lagi sekadar berita televisi, melainkan kenyataan yang membentuk harga, lapangan kerja, dan masa depan keluarga.

Mengapa Rusia Sulit Kembali ke Kehidupan Normal

Kembalinya kondisi normal mensyaratkan berakhirnya perang. Namun perang tidak bisa berhenti selama Presiden Vladimir Putin tetap berkuasa dan menganggap konflik itu sebagai jalan untuk mempertahankan kelangsungan politik dan pribadinya.

Persoalannya lebih dalam dari sosok Putin. Dua faktor struktural membuat agresi Rusia selalu mungkin terjadi dan kondisi normal selalu rentan runtuh. Pertama, budaya politik dan identitas nasional Rusia. Kedua, keyakinan yang mengakar bahwa negara itu punya takdir istimewa untuk mendominasi bangsa lain.

Pandangan ini bukan monopoli Putin. Pejabat kekaisaran Rusia, tokoh budaya seperti Fyodor Dostoevsky, hingga disiden anti-komunis Aleksandr Solzhenitsyn pernah memegangnya. Kini pandangan serupa dipegang Patriark Kirill, Dmitry Medvedev, Aleksandr Dugin, dan Vladimir Solovyov — tokoh-tokoh yang getol menyuarakan kebesaran Rusia di ruang publik.

Sejarah Menunjukkan Perubahan Hanya Datang Setelah Kekalahan

Sebagian besar warga Rusia menganut pandangan kebesaran nasional itu, meski tidak selalu secara eksplisit. Nilai-nilai tersebut mengalir dalam air budaya tempat mereka hidup. Karena itu, warga yang mendambakan hidup normal sehari-hari sulit menolak klaim kebesaran bangsa yang telah tertanam berabad-abad.

Perubahan budaya semacam itu pernah terjadi di negara lain. Inggris dan Prancis kehilangan imperiumnya. Jerman dan Jepang yang agresif dibom hingga memilih pasifisme setelah Perang Dunia II, lalu mengalihkan fokus ke kesejahteraan domestik. Amerika Serikat pun dinilai sedang menuai konsekuensi dari posisinya di panggung global.

Pola itu menunjukkan Rusia hanya bisa merangkul kehidupan normal jika dan hanya jika mengalami kekalahan militer yang memalukan. Tanpa itu, perang dan ketidaknormalan akan terus menjadi kondisi tetap bagi warga Rusia.

Pertanyaannya kini bukan apakah Rusia bisa menjadi normal, melainkan apa yang harus terjadi lebih dulu agar perubahan itu mungkin. Selama budaya politik dan ambisi kebesaran nasional belum tergoyahkan, kehidupan normal bagi warga Rusia akan tetap menjadi barang mahal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index