JAKARTA — Pagu APBN 2027 yang menembus Rp 4.097,2 triliun dirancang beriringan dengan target pertumbuhan ekonomi 6 persen. Angka ini menjadi sinyal optimisme pemerintah kepada pasar bahwa peningkatan target tidak otomatis diikuti pelebaran defisit.
Defisit anggaran tahun depan disebutkan berada di kisaran Rp 671,2 triliun atau sekitar 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan kombinasi ini menjadi pesan penting bagi pelaku pasar.
Defisit Terjaga, Penerimaan Negara Capai Rp 3.426 Triliun
"Defisit kita hanya sekitar 2,4. Artinya apa? Targetnya tinggi, kemudian defisitnya di bawah, sekitar Rp 671,2 triliun," ujar Misbakhun usai mengikuti sidang paripurna nota keuangan di kompleks parlemen, Jumat (14/8/2026).
Untuk menutup belanja negara, pemerintah mengandalkan penerimaan yang berasal dari pajak, kepabeanan, cukai, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Total penerimaan negara tersebut diproyeksikan mencapai Rp 3.426 triliun.
Sisanya, kebutuhan belanja yang tidak tertutup penerimaan akan dibiayai melalui pembiayaan anggaran. Misbakhun menyebut mekanisme ini tetap berada dalam koridor defisit yang diizinkan undang-undang.
Pemerintah Masih Punya Ruang Manfaatkan SAL
Ketika ditanya soal potensi penambahan utang baru, Misbakhun menjelaskan pembiayaan defisit tetap harus disetujui bersama antara pemerintah dan DPR. Ia juga menyebut pemerintah masih memiliki Sisa Anggaran Lebih (SAL) untuk pengelolaan kas negara.
"SAL masih bisa. SAL kita masih punya Sisa Anggaran Lebih, dan kita digunakan untuk proses yang lain, dan kita masih menggunakan sebagian defisit ditutup dari situ," katanya.
Belanja Ekspansif Jadi Motor Pertumbuhan
Di sisi belanja, Misbakhun menekankan pentingnya government spending yang ekspansif untuk menggerakkan roda ekonomi. Belanja pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan disebut menjadi instrumen kunci, mengingat keduanya memiliki alokasi wajib melalui mandatory budgeting.
"Government spending yang ekspansif itu memberikan dampak yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi," kata Misbakhun.
Ia menambahkan, tantangan ke depan bukan sekadar menaikkan anggaran, melainkan memastikan belanja tersebut berdampak nyata terhadap aktivitas ekonomi dan pelayanan publik. "Target ini adalah sebuah pesan yang kuat kepada pasar untuk sama-sama kita optimistis, membangun optimisme secara bersama-sama," pungkasnya.