JAKARTA — Guncangan gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di laut itu memicu kerusakan signifikan di sejumlah kabupaten. Data sementara mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan parah juga menimpa 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah.
Korban jiwa terbanyak terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai dengan 23 orang, menyusul Manggarai Timur 17 jiwa. Sementara itu, korban lainnya tersebar di Kabupaten Sikka 4 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Ende 1 jiwa, dan Nagekeo 1 jiwa. Setidaknya 101 warga dilaporkan luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.
Konsentrasi Pengungsi Terbesar di Kabupaten Sikka
Berdasarkan pantauan BNPB, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa. Mereka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa, dan sisanya mengungsi mandiri di 10 titik pengungsian.
Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai 2.078 jiwa. Ratusan pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, serta dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima dan Kepulauan Selayar.
Logistik Prioritas: Tenda Darurat hingga Genset
Pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian menjadi prioritas penanganan darurat. Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih, hingga genset.
"Konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa," kata Berton dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8/2026).
341 Kali Gempa Susulan Masih Terjadi
Guncangan gempa utama telah diikuti oleh 341 kali aktivitas gempa susulan. Hal ini menambah kekhawatiran warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian. BNPB terus memutakhirkan data dampak bencana dan menyalurkan bantuan ke daerah-daerah terdampak.