JAKARTA — Pramoedya Ananta Toer menghimpun kesaksian para remaja perempuan pribumi yang menjadi korban eksploitasi militer Jepang saat ia menjalani pembuangan di Pulau Buru. Bahan catatan itu berasal dari ingatan, wawancara, dan kesaksian yang dikumpulkannya sekitar 1978–1979. Hasilnya menjadi buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, yang baru bisa terbit pertama kali pada Maret 2001 setelah tekanan politik Orde Baru mereda.
Buku ini merekam sisi pendudukan Jepang yang jarang dibahas. Selama ini ingatan kolektif lebih banyak menyorot romusha — pengerahan tenaga laki-laki pribumi untuk kepentingan militer. Padahal, perempuan muda juga menjadi sasaran sistem kekuasaan yang sama.
Janji Sekolah yang Berubah Jadi Jebakan
Kabar yang beredar di kalangan warga pribumi saat itu menyebut adanya pengiriman remaja perempuan ke Jepang untuk menempuh pendidikan. Mereka dijanjikan pelatihan agar kelak bisa kembali sebagai perawat, bidan, guru, atau tenaga terdidik lain. Bagi keluarga yang hidup serba kekurangan akibat perang, tawaran itu sulit ditolak.
Namun informasi keberangkatan tidak pernah disampaikan lewat pengumuman resmi. Kabar menyebar dari mulut ke mulut. Cara seperti itu membuka ruang perekrutan tertutup dan membuat keluarga kehilangan akses informasi soal tujuan sebenarnya.
Proses pemilihan pun menimbulkan kecurigaan. Yang dipilih bukan pelajar umum, melainkan remaja dengan kriteria khusus: usia, asal daerah, dan penampilan. Catatan Pramoedya menyebut para korban umumnya berumur 13–17 tahun, berasal dari kawasan perkotaan, dan dipilih berdasarkan paras.
Ditempatkan di Berbagai Basis Militer
Kapal yang membawa mereka berlayar dengan harapan sekolah dan pekerjaan. Kenyataannya, tujuan perjalanan bukan ruang pendidikan. Para remaja itu diarahkan ke sejumlah lokasi yang berkaitan dengan kepentingan militer Jepang.
Setibanya di sana, impian mereka runtuh. Alih-alih menerima pelatihan, mereka mengalami kekerasan seksual dan eksploitasi. Menurut catatan Pramoedya, para korban ditempatkan di berbagai wilayah basis militer Jepang, baik di luar Indonesia maupun di sejumlah daerah Asia Tenggara.
Posisi mereka makin rentan karena jauh dari keluarga dan lingkungan sosial. Tanpa akses melarikan diri atau meminta pertolongan, mereka terjebak dalam situasi yang berlangsung lama.
Kekuasaan yang Bekerja Lewat Manipulasi Harapan
Kisah ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja lewat kekerasan terbuka. Janji pendidikan dan masa depan dipakai untuk membuat korban bersedia meninggalkan rumah. Setelah terpisah dari keluarga, mereka kehilangan pilihan.
Pramoedya dikenal sebagai penulis yang gigih merekam suara orang-orang yang tersisih dari narasi sejarah resmi. Buku ini menjadi bagian dari usaha itu. Seperti karya-karyanya lain, penerbitannya sempat tertahan selama bertahun-tahun karena pengawasan ketat pada masa Orde Baru.
Hingga kini, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer bertahan sebagai dokumentasi salah satu luka sejarah yang jarang dibicarakan. Pengalaman para remaja itu memperlihatkan bagaimana pendudukan militer meninggalkan bekas kekerasan yang tidak hanya menyasar tubuh dan tenaga, tetapi juga harapan.